BERITA
KIPRAH KAMI
PENGAJIAN ONLINE
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
22.08
Pelatihan HandyCraft Comdev Pondok Benda
Rabu, 06 Februari 2013
03.58
RPM Baksos Bersama Arthajasa
Sabtu, 12 Januari 2013
Alhamdulillah, yang kedua kalinya Rumah Pemberdayaan
masyarakat mendapat kepercayaan untuk
menyalurkan bantuan sosial dengan total penerima manfaat mencapai seribu
orang. Jika romdhan lalu kami
mendapatkan amanah dari Program BRI
peduli untuk 1000 Mustahik, kali ini
PT. Arthajasa melalui Rohisnya memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelenggarakan BAKSOS
dengan nama program Bazar Amal Arthajasa disingkat BAZMALA . Pelaksaan baksos
ini diadakan pada tanggal 16 Desember 2012
di salah satu komunitas Binaan Rumah pemberdayaan yaitu di kelurahan
selapajang kota Tangerang .
Kegiatan Bazar amal Arthajasa–BAZMALA ini dimulai pada pukul 08.30 dibuka langsung oleh Dirut Arthajasa Bapak
Arya Damar sekaligus secara
simbolis memberikan bantuan untuk
program sekolah karakter yang diterima
langsung oleh ketua umum rumah pemberdayaan masyarakat bapak ahmad Husen.
Selain dihadiri oleh direktur utama dan ketua umum RPM hadir pula direktur
operasional Arthajasa dan para tokoh masyratakat dan ulama setempat.
Kegiatan BAZMALA berjalan dengan tertib dan lancar dan selesai
pada pukul 14.00wib. Ini semua tentu atas kerjasama panitia yang terdiri dari
relawan lokal, relawan RPM pusat dan
relawan rohis arthajasa. Adapun rangkaian program/kegiatan tersebut terbagi
kedalam 7 titik/program :
1.
SEMUR
Penjualan
sembako murah yang diperuntukan bagi masyarakat miskin penerima manfaat 500
orang dengan harga perpaket 20.000 terdiri dari beras
5kg,minyak,susu,indomi,gula dan teh
2.
SEKAR
Launching
sekolah karakter merupakan program
unggulan rumah pemberdayaan bidang pendidikan . Sekolah karakter merupakan
sekolah informal untuk warga miskin dengan kandungan materi pembinaan
karakakter, Bimbel, Bahasa ingris dan pengembangan potensi anak.
3.
BABEMU
Penjuaalan
barang bekas murah berupa pakaian dan alat rumah tangga.
4.
EDUKIDZ
Pemberian
motivasi dan permainan mendidik pada anak usia pendidikan TK sampai kelas 4 SD. Penerima manfaat 150 anak.
5.
SIAGA
Pemberian
makanan sehat untuk anak usia TK sampai SD kelas empat, penerima manfaat 150
anak
6.
RESIK
Pemberdayaan
ekonomi melalui pelatihan daur ulang sampah, penerima manfaat 20 orang
7. PESAT
Penyuluhan dan pemeriksan kesehatan bagi warga miskin dengan penerima manfaat 200 orang, pelaksaanan kegiatan ini selama setahun setiap dua bulan sekali.
Penyuluhan dan pemeriksan kesehatan bagi warga miskin dengan penerima manfaat 200 orang, pelaksaanan kegiatan ini selama setahun setiap dua bulan sekali.
05.50
WARGA MISKIN TANGSEL NAIK 3%
Kamis, 10 Januari 2013
Kabar6-Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang Selatan
(Tangsel), jumlah penduduk miskin di kota pemekaran termuda se Provinsi
Banten itu cenderung meningkat pada usianya yang ke empat tahun (2012).
Demikian disampaikan Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Islam Nasional (UIN) Ciputat, Zaki Mubarok, Kamis (6/12/12).
“Jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan hingga 3 persen pada tahun 2012. Dari 8 persen di Tahun 2011, sekarang jumlah warga miskin mencapai 11 persen,” ungkap Zaki.
Artinya, kata Zaki, Pemkot Tangsel kurang serius dalam menangani persoalan kemiskinan ini. Padahal, dari total 1,3 juta penduduk Kota Tangsel, cukup banyak yang masih berada di garis kemiskinan. Namun itu semua tidak terdata dengan baik sehingga tidak jelas.
Untuk itu, Pemkot Tangsel harus membuat parameter kemiskinan. Agar penganggaran program kemiskinan menjadi terukur dan jelas. "Yang disebut miskin harus jelas, karena banyak di wilayah ini, yang punya tanah luas karena warisan, tapi pengangguran sehingga tidak mampu secara ekonomi. Apakah ini disebut miskin," ucapnya setengah bertanya.
Saat ini Pemkot Tangsel lebih fokus pada masalah infrastruktur. Hal ini tercermin melalui angka di APBD 2012 yang mencapai Rp 1,95 triliun, sekitar 33 persen dialokasikan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur itu.
Masalah pendidikan dan kesehatan mendapat porsi 30 persen, pelayanan pemerintah 29 persen dan sektor lesejahteraan rakyat hanya 26 persen. "Pemkot Tangsel jangan terlalu konservatif dalam menyusun APBD, harus ada keseriusan dalam menangani masalah kemiskinan," ucapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel, mengatakan Jumlah rumah tangga miskin di kota Tangerang Selatan ( Tangsel ) mencapai 20.057 rumah tangga. Angka ini berdasarkan Pendataan Perlindungan social ( PPLS ) Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel tahun 2011.
“Dari jumlah rumah tangga di Tangsel yang mencapai 35.491 rumah tangga, 20.057 diantaranya tergolong miskin. Ini artinya yang tidak miskin hanya 10 ribuan,” ungkap Kepala BPS Tangsel, Darusman.
Lebih lanjut Darusman menjelaskan, rumah tangga miskin di Tangsel dibedakan menjadi 3 golongan. Yakni golongan pertama paling miskin yang mencapai 4.563 rumah tangga, golongan kedua, miskin mencapai 7.747 rumah tangga dan golongan ketiga hampir miskin yang mencapai 7.747 rumah tangga.
Untuk jumlah rumah tangga miskin terbanyak adalah di kecamatan Pamulang, yakni mencapai 1.124 rumah tangga, dan yang paling sedikit adalah di kecamatan Setu. “Ini dikarenakan jumlah penduduk di setu juga paling sedikit,” imbuh Darusman.
Sementara sekretaris Dinas sosial tenaga kerja dan transmigrasi (Dinsosnakertras), Dewanto mengatakan, data dinas sosial berdasarkan penerima raskin sebesar18.828 jiwa masyarakat miskin di Tangsel, namun data ini belum semuanya,sehingga perlu dilakukan pendataan kembali terkait jumlah masyarakat miskin di Tangsel.
Dewanto mengatakan, jumlah masyarakat miskin di Tangsel tidak hanya dari penerima raskin saja, namun juga ditambah dengan data penganguran yang ada di Tangsel,sehingga Dia menjelaskan berdasarkan data kisaran 130 ribu jiwa masyarakat Tangsel yang miskin, sehingga ini menjadi pekerjaan rumah Dinsosnakertrans.
“Kita akan memvalidasi data antara data Dinsosnakertrans dengan BPS,supaya data kemiskinan di Tangsel jelas,” katanya.
Lanjutnya, Dinsosnakertrans dalam mengatasi kemiskinan dengan melakukan berbagai kegiatan pelatihan kewirahusaan dan keterampilan menjahit supaya masyarakat bisa menjadi seorang wirausaha.(Turnya)
Demikian disampaikan Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Islam Nasional (UIN) Ciputat, Zaki Mubarok, Kamis (6/12/12).
“Jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan hingga 3 persen pada tahun 2012. Dari 8 persen di Tahun 2011, sekarang jumlah warga miskin mencapai 11 persen,” ungkap Zaki.
Artinya, kata Zaki, Pemkot Tangsel kurang serius dalam menangani persoalan kemiskinan ini. Padahal, dari total 1,3 juta penduduk Kota Tangsel, cukup banyak yang masih berada di garis kemiskinan. Namun itu semua tidak terdata dengan baik sehingga tidak jelas.
Untuk itu, Pemkot Tangsel harus membuat parameter kemiskinan. Agar penganggaran program kemiskinan menjadi terukur dan jelas. "Yang disebut miskin harus jelas, karena banyak di wilayah ini, yang punya tanah luas karena warisan, tapi pengangguran sehingga tidak mampu secara ekonomi. Apakah ini disebut miskin," ucapnya setengah bertanya.
Saat ini Pemkot Tangsel lebih fokus pada masalah infrastruktur. Hal ini tercermin melalui angka di APBD 2012 yang mencapai Rp 1,95 triliun, sekitar 33 persen dialokasikan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur itu.
Masalah pendidikan dan kesehatan mendapat porsi 30 persen, pelayanan pemerintah 29 persen dan sektor lesejahteraan rakyat hanya 26 persen. "Pemkot Tangsel jangan terlalu konservatif dalam menyusun APBD, harus ada keseriusan dalam menangani masalah kemiskinan," ucapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel, mengatakan Jumlah rumah tangga miskin di kota Tangerang Selatan ( Tangsel ) mencapai 20.057 rumah tangga. Angka ini berdasarkan Pendataan Perlindungan social ( PPLS ) Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel tahun 2011.
“Dari jumlah rumah tangga di Tangsel yang mencapai 35.491 rumah tangga, 20.057 diantaranya tergolong miskin. Ini artinya yang tidak miskin hanya 10 ribuan,” ungkap Kepala BPS Tangsel, Darusman.
Lebih lanjut Darusman menjelaskan, rumah tangga miskin di Tangsel dibedakan menjadi 3 golongan. Yakni golongan pertama paling miskin yang mencapai 4.563 rumah tangga, golongan kedua, miskin mencapai 7.747 rumah tangga dan golongan ketiga hampir miskin yang mencapai 7.747 rumah tangga.
Untuk jumlah rumah tangga miskin terbanyak adalah di kecamatan Pamulang, yakni mencapai 1.124 rumah tangga, dan yang paling sedikit adalah di kecamatan Setu. “Ini dikarenakan jumlah penduduk di setu juga paling sedikit,” imbuh Darusman.
Sementara sekretaris Dinas sosial tenaga kerja dan transmigrasi (Dinsosnakertras), Dewanto mengatakan, data dinas sosial berdasarkan penerima raskin sebesar18.828 jiwa masyarakat miskin di Tangsel, namun data ini belum semuanya,sehingga perlu dilakukan pendataan kembali terkait jumlah masyarakat miskin di Tangsel.
Dewanto mengatakan, jumlah masyarakat miskin di Tangsel tidak hanya dari penerima raskin saja, namun juga ditambah dengan data penganguran yang ada di Tangsel,sehingga Dia menjelaskan berdasarkan data kisaran 130 ribu jiwa masyarakat Tangsel yang miskin, sehingga ini menjadi pekerjaan rumah Dinsosnakertrans.
“Kita akan memvalidasi data antara data Dinsosnakertrans dengan BPS,supaya data kemiskinan di Tangsel jelas,” katanya.
Lanjutnya, Dinsosnakertrans dalam mengatasi kemiskinan dengan melakukan berbagai kegiatan pelatihan kewirahusaan dan keterampilan menjahit supaya masyarakat bisa menjadi seorang wirausaha.(Turnya)
Langganan:
Postingan (Atom)






