News Update :

Halaman

BERITA

KIPRAH KAMI

PENGAJIAN ONLINE

LAUNCHING KSM PONDOK BENDA

Rabu, 02 Januari 2013

Kami Rumah Pemberdayaan Masyarakat akan mengadakan Pelatihan Motivasi Pemberdayaan Masyarakat dan Pelatihan Budi Daya ikan Lele Sangkuriang.

Rencananya acara ini akan diselenggarakan pada hari Ahad, 6 Januari 2013 dari jam 08:00 sampai dengan jam 12:00.

Peserta terdiri dari Relawan Rumah Pemberdayaan, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pondok Benda, dan Undangan seluruh RT diwilayah RW 09 Kelurahan Pondok Benda.

Acara ini akan di isi oleh pemateri Bapak Husen yang merupakan Ketua dari Rumah Pemberdayaan Masyarakat dan Bapak Adit ( Peternak Lele Sangkuriang )

Buka Puasa bersama dan Santunan untuk 1000 Dhuafa

Minggu, 29 Juli 2012



Bulan Ramadhan, bulan yang indah nan penuh berkah, dimana pintu-pintu pengampunan terbuka lebar dan semua setan terbelenggu tak berdaya untuk mengganggu manusia-manusia yang sedang berusaha kembali menjadi fitri, suci seperti dia pertama kali tercipta dan saat ditanya siapa tuhannya. Dan mereka para manusia menjawab

“Allah Tuhanku, Allah penciptaku, Allah pemilikku, dan Allah tempat kembaliku”.


 

Kami dari LSM Rumah Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka mewujudkan Program Pendampingan Keluarga Miskin(P2KM),di bulan Ramadhan ini kami ingin menyelenggarakan kegiatan diantaranya

Buka Puasa bersama dan Santunan untuk 1000 Dhuafa

. Yaitu dalam bentuk amal bertajuk ” Indahnya Saling Berbagi di Bulan yang Suci ”.


WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Hari/Tanggal : Kamis, 02 Agustus 2012

Waktu : 10.00 -18.30 WIB

Tempat : - Santunan Dhuafa : Masjid Al Mujahidin Pamulang

Peserta : 1000 Dhuafa

SASARAN KEGIATAN
1. Kaum dhuafa di wilayah ciputat dan pamulang

2. Masyarakat Umum

Pelatihan Kewirausahaan

Rabu, 13 Juni 2012


Rumah Pemberdayaan Masyarakat mengadakan acara Pelatihan Kewirausahaan

Waktu        : Sabtu,16 Juni 2012 (13.00 WIB s.d Selesai)


Tempat      : Aula Yayasan Darunnisa


Tema         : "KIAT MENJADI WIRAUSAHAWAN SUKSES"


Pembicara : Ibnu Khajar (Trainer, Motivator, Inspirator)
                   
                     Budi Kusworo (Pizza Rakyat), dan   
                   
                     Ust.Rustanto



JANGAN LEWATKAN !!!

Membangun BLK Merajut Mimpi Entaskan Kemiskinan

potret kemiskinan (ilustrasi)
rumahpemberdayaanmasyarakat.blogspot.com,Tangsel--Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) punya pekerjaan rumah krusial. Kota otonom itu memiliki angka pengangguran yang sangat signifikan di tahun ini yakni mencapai 54.000 orang. Padahal tahun sebelumnya angka pengangguran itu dikisaran 9.000 orang. Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) memiliki mimpi untuk mengurai pekerjaan rumah itu.  SKPD ini meyakini silaturahmi dengan 932 perusahaan, memaksimalkan CSR, dan membangun BLK, pengangguran itu akan bisa diatasi.

Demikian intisari percakapan dengan Sekretaris Dinsosnakertrans Tangsel, Dewanto dalam program ngobrol santai bareng (Ngobras) redaksi Tangsel Pos-Tangerang Pos di kantor redaksi kawasan Ruko Golden Road Blok  C nomor 32 No 12, ITC, Bumi Serpong Damai (BSD), Jalan Pahlawan Seribu, Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Rabu (4/3) siang.

Turut hadir dalam kesempatan itu Kepala Bidang Pengawasan dan Tenaga Kerja (Wasnaker) Malkim M; Tua Rusli sebagai pengawas; Yonna Shalli Zen sebagai mediator dan Masfar. Sedianya Ngobras kali ini akan dihadiri Kadinsosnakertrans Purnama Wijaya. Namun Purnama harus menghadiri rapat pimpinan bersama Walikota Tangsel  Airin Rachmi Diani.

Road Show Perusahaan
“Saat ini kami sedang melakukan road show ke perusahaan-perusahaan yang ada di Tangsel. Itu sebagai upaya untuk membangun tali silaturahmi antara Dinsosnakertrans. Tentu saja  itu juga untuk membangun tali batin agar diantara kami saling mengenal, seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang,” kata Dewanto seraya mengembangkan senyum.

Jumlah perusahaan di wilayah Tangsel diungkapkan Dewanto, lebih dari 2.000. Namun yang sudah tercatat dalam data Dinsosnakertrans sebanyak 932 perusahaan. “Dengan road show ke perusahaan-perusahaan itu, kami bisa mengkomunikasikan Corparate Sosial Responsibility (CSR) yang ada di perusahaan-perusahaan. Kami berharap dana CSR itu bisa dikeluarkan untuk kepentingan-kepentingan masyarakat sekitar perusahaan tersebut,” ujarnya.

Dana CSR itu pada gilirannya akan dikerjasamakan dengan RT dan RW serta kelurahan dan kecamatan sekitar perusahaan. “Kami nanti kerjasama dengan RT dan RW serta kelurahan dan kecamatan. Mengingat dana CSR itu memang harus disalurkan ke warga sekitar,” ujarnya.

Legalisasi Perda CSR
Dewanto juga menerangkan dana CSR di perusahaan-perusahaan itu memang sangat potensial dan jumlahnya juga sangat besar, mengingat setiap perusahaan itu diwajibkan mengeluarkan dana tersebut sebesar 2,5 persen dari keuntungan yang diraih. Namun Pemkot Tangsel juga perlu legalitas CSR seperti dituangkan dalam peraturan daerah (perda).

“Kalau dana CSR itu mau ditarik dan mau dikumpulkan misalnya, maka Pemkot Tangsel butuh Perda CSR. Peraturan daerah itu tentu sangat penting sebagai landasan atau payung hukum untuk menarik CSR. Kalau dana CSR itu ditarik dan dikumpulkan, tapi kalau sudah memiliki perdanya, tidak akan menemui masalah seperti dengan kejaksaan dalam soal pendistribusian dana CSR tersebut.
Meski begitu upaya-upaya untuk mengentaskan kemiskinan terus dan tetap berjalan, meski belum punya perda,” terang Dewanto.

Dalam kesempatan itu juga Dewanto juga menyinggung, Tangsel juga memiliki persoalan yang juga pelik seperti persoalan-persoalan sosial seperti anak-anak terlantar. Namun Dinsosnaker akan terus menggerakan dan menggali seluruh potensi yang ada di Tangsel untuk mengatasi masalah itu. Termasuk diantaranya memberangkatkan keluarga ke daerah transmigrasi seperti di Kalimantan.
“Sampai saat ini sudah ada tukuh kepala keluarga yang siap diberangkatkan ke Kalimantan. Di daerah transmigrasi itu memang diberi lahan sekitar 2 hektar, termasuk tempat tinggal dan biaya untuk hidup sementara,” kata Dewanto. Namun diakui dia, untuk memberangkatkan warga yang kurang mampu ke daerah transmigrasi bukan perkara gampang, mengingat ada semacam pikiran karena mereka tinggal di kota yang berdekatan dengan Jakarta.

Mimpi Membangun BLK
Untuk mengentaskan kemiskinan itu ditambahkan Tua Rusli, Pemkot Tangsel perlu membangun Balai Latihan Kerja (BLK). “BLK yang ada saat ini di kawasan Serpong itu punya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Kehadiran BLK itu sangat penting untuk mendidik dan melatih para pencari kerja yang belum memiliki skill, agar siap pakai dan siap kerja. Tanah yang dibutuhkan untuk BLK bisa mencapai sekitar 2 hektar lebih,” katanya.

Mendirkan BLK juga lanjut dia, tidak bisa sembarangan. Pasalnya, harus disesuaikan dengan struktur atau karateristik wilayah yang ada. “BLK itu memang macam-macam. Ada BLK wisata, perikanan, teknologi pertanian, dan lain-lain. Nah, kalau di Tangsel itu membutuhkan BLK seperti apa, ini yang sedang dikaji oleh tim tersendiri,” papar Rusli lagi.

Di BLK itu lanjut dia, setelah para pencari kerja dididik dan dilatih, lalu dimagangkan dalam perusahaan-perusahaan yang ada di Tangsel. Dengan begitu, pengagguran yang ada di Tangsel bisa dientaskan. Bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan itu tentu saja menjadi keharusan, mengingat mengentaskan pengangguran dengan menggunakan dana APBD sangat terbatas.

“Pemkot Tangerang Selatan itu memang memiliki anggaran. Tapi sangat tidak mungkin mengandalkan dana APBD terus. Lagi pula kalau berdasarkan dana APBD yang bisa dientaskan melalui BLK, jumlah dari mulai 30-60 orang. Terlebih saat ini pembangunan diantaranya diarahkan pada pendidikan, infratruktur jalan, dan kesehatan.”  Dewanto menambahkan.

Lowongan Pekerjaan Diam-diam Dipidanakan
Dinsosnaker juga mengalami kendala serius dalam mengentaskan kemiskinan di Tangsel, mengingat perusahan-perusahan itu tidak semuanya memberitahukan ada lowongan di perusahaannya. Padahal berdasarkan Keputusan Presiden nomor 4 tahun 1980 tentang wajib lapor lowongan kerja, perusahaan-perusahaan itu wajib melaporkan lowongan kerja ke Dinsosnakertrans.

“Tidak semua perusahaan melaporkan lowongan kerja ke Dinsosnakertrnas,” ungkap Yonna Shali Zen, mediator Dinsosnaker. Diakui dia, sangat berbeda ketika bertugas di Kota Cilegon.

“Perusahaan di sana melaporkan lowongan kerja kepada kami, untuk kemudian kami umumkan. Perusahaan di  Tangsel ini, ketika membuka lowongan kerja, terkesan diam-diam. Padahal kalau tidak melaporkan ke Dinsosnakertrans itu bisa dikenakan sanksi pidana. Setiap perusahaan juga harus mengikuti Undang-undang nomor 7 tahun 1981 tentang lapor ketenagakerjaan,” ujarnya.

DATA KEMISKINAN INDONESIA

rumahpemberdayaanmasyarakat.blogspot.com,Jakarta--Data kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan penurunan jumlah rakyat miskin sebanyak satu juta jiwa dinilai sebagai data semu. Pasalnya, angka tersebut diperoleh dari hasil survei yang terkontaminasi dengan pembagian beras miskin atau raskin.Selain itu, penetapan garis kemiskinan yang digunakan BPS dianggap terlalu rendah dan tidak sesuai dengan patokan Bank Dunia yang menggunakan basis purchasing power parity (PPP) di bawah 2 dollar AS per orang per hari.

Direktur International Center for Applied Finance and Economics (Inter-Café) Iman Sugema mengatakan pemerintah diharapkan tidak memercayai data yang disuguhkan oleh BPS. Pasalnya, data yang diberikan tidak valid mengingat adanya pemberian bantuan dari pemerintah saat dilakukan survei kemiskinan.

“Segitu saja sudah dibantu dengan raskin yang dipaskan dengan waktu surveinya, apalagi kalau tidak ada, bisa tambah parah. Data BPS ini terkontaminasi dengan adanya pembagian raskin,” tegas dia di Jakarta, Jumat (1/7).
 
BPS melaporkan jumlah penduduk miskin turun sekitar satu juta jiwa pada periode Maret 2010-Maret 2011, lebih rendah dibandingkan penurunan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,51 juta jiwa. Menurut BPS, untuk periode Maret 2010-Maret 2011, jumlah penduduk miskin 30,02 juta jiwa atau 12,49 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut turun dibandingkan data periode sebelumnya yang mencapai 31,02 juta jiwa (13,33 persen).

Hal senada diungkapkan pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Aris Yunanto. Aris menambahkan pemerintah kerap kali menyiasati momentum survei dengan pengucuran bantuan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Secara otomatis, saat itu kebutuhan masyarakat miskin terpenuhi. “Data BPS itu sifatnya semu sekaligus politis. Jadi, sebenarnya orang miskin justru meningkat, bukannya berkurang,” jelas dia.Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, juga mengatakan survei kemiskinan yang dilakukan Maret lalu diikuti dengan campur tangan pemerintah. Pasalnya, dalam penentuan kemiskinan, 60 persen bobotnya ditentukan oleh beras, sementara pada Maret pemerintah dua kali menggelontorkan beras raskin yang ditengarai untuk membantu masyarakat miskin.

Terlebih, lanjut Aris, parameter yang dipakai BPS untuk standardisasi angka kemiskinan tidak mengacu Bank Dunia yang menyatakan bahwa PPP atau pendapatan per hari masyarakat tidak miskin minimal 2 dollar AS per hari.

“Pemerintah berlindung di balik kalimat negara berkembang sehingga sebagai negara berkembang Indonesia sah-sah saja menetapkan ukuran berbeda dengan Bank Dunia. Padahal, banyak negara berkembang yang sudah memakai standar Bank Dunia,” beber dia.

Jika mengacu pada kriteria Bank Dunia, dari 231 juta total populasi Indonesia, sekitar 117 juta jiwa atau 50,6 persen di antaranya dikategorikan sebagai penduduk yang sangat miskin.

Tingginya jumlah kemiskinan di Tanah Air juga dibarengi dengan merosotnya daya beli riil rakyat miskin. Menurut perhitungan Koran Jakarta, setiap 1 dollar AS pada 2001 dapat dibelanjakan 3,76 kilogram (kg) beras jenis medium atau 2,45 liter minyak goreng, namun pada 2010 hanya bisa membeli 1,18 kilogram beras atau 0,79 liter minyak goreng. Artinya, harga komoditas pangan sudah naik tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir.

Tidak Terintegrasi
Menurut Iman, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi dan semestinya diikuti dengan penurunan angka kemiskinan yang lebih cepat. Namun, kendala yang dihadapi Indonesia adalah masalah distribusi pendapatan, yaitu pertambahan pendapatan orang miskin tidak secepat peningkatan pendapatan di penduduk kalangan atas. “Makanya banyak yang tertinggal. Oleh karena itu, pemerintah harus memikirkan bagaimana strategi pertumbuhan ekonomi bisa terjadi di kalangan terbawah,” kata dia.

Sementara itu, pengamat ekonomi Econit, Hendri Saparini, mengatakan pemerintah disarankan tidak mengeluarkan kebijakan yang mendorong bertambahnya angka kemiskinan. “Pokoknya kebijakan yang dikeluarkan tidak boleh kontraproduktif dengan kebijakan pengentasan kemiskinan yang telah dirancang,” ujar dia.

Kesulitan pemerintah menurunkan angka kemiskinan, menurut Hendri, lebih disebabkan oleh paradigma tentang pengentasan rakyat dari kemiskinan yang tidak terintegrasi dengan strategi pembangunan ekonomi.

“Selain melaksanakan program pengentasan kemiskinan, pemerintah mengeluarkan kebijakan, contohnya dalam hal perdagangan liberal yang menghasilkan orang miskin baru atau kebijakan fiskal, misalnya yang menaikkan harga BBM, gas, dan tarif listrik bersamaan,” ujarnya.

Menurut dia, selama ini pengentasan masyarakat dari kemiskinan dilakukan hanya dengan menggelontorkan dana sebesar-besarnya, padahal hal ini tidak menjamin bisa mengurangi angka kemiskinan di dalam negeri.

“Seolah-olah pengentasan kemiskinan hanya cukup dengan anggaran besar. Tahun 2004 dianggarkan sebesar 18 triliun rupiah, pada 2010 meningkat tajam sebesar 62 triliun rupiah, dan 2011 sebesar 90 triliun rupiah, tetapi angka kemiskinan tidak berubah banyak. Ada program kemiskinan, tapi di sisi lain kebijakan pemerintah membuat orang miskin,” jelas Hendri.

Dengan adanya pemberian raskin sebanyak dua kali pada bulan Maret 2011 berbarengan dengan pemotretan data kemiskinan, Hendri menilai BPS memotretnya berdasarkan asumsi. “Asumsi itu kan bisa salah bisa tidak, itu kan potret bulan Maret yang ditunjang oleh raskin dan BLT (bantuan langsung tunai),” ungkapnya.

Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan jumlah penduduk miskin perdesaan turun lebih besar dibandingkan penduduk miskin perkotaan. Di perdesaan, setahun terakhir ini penurunan jumlah penduduk miskin tercatat 953.000 jiwa, sedangkan di perkotaan penduduk miskin turun 51.000 jiwa. “Jumlah penduduk miskin perdesaan memang lebih besar,” tegas dia.

Menurut Rusman, perhitungan penduduk miskin dihitung menggunakan pendekatan kebutuhan dasar yang dihitung berdasarkan konsumsi kalori rata-rata 2.100 kalori per hari. Angka di bawah itu bisa dikatakan miskin bila mengeluarkan biaya untuk makan rata-rata 73,52 persen dari penghasilannya. “Garis kemiskinan naik 10,39 persen dibanding tahun sebelumnya dari 211.726 rupiah menjadi 233.740 rupiah per bulan,” jelas dia.

Rusman mengatakan beberapa faktor yang membuat penurunan penduduk miskin setahun terakhir ini di antaranya inflasi yang secara umum tercatat rendah, yakni periode Maret 2010-Maret 2011 sebesar 6,65 persen. Upah buruh juga naik 7,40 persen dan produksi padi naik 2,4 persen menjadi 68,06 juta ton gabah kering giling. Hal ini menyebabkan perbaikan penghasilan petani. “Sektor pertanian ini sangat berperan besar menyerap tenaga kerja,” ucapnya.

BANTUAN BEDAH GEROBAK

Selasa, 05 Juni 2012

PERHITUNGAN ANGKA KEMISKINAN BPS VS BANK DUNIA

Senin, 04 Juni 2012

rumahpemberdayaanmasyarakat.blogspot.com--Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya dapat menjadi instrumen tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi  hidup orang miskin. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki posisi mereka.

A. Tujuan
  1. Mengetahui jumlah dan persentase penduduk miskin menurut daerah perkotaan dan pedesaan.
  2. Mengetahui karakteristik rumahtangga miskin dan tidak miskin menurut daerah perkotaan dan pedesaan.
  3. Mengetahui distribusi dan ketimpangan pendapatan secara nasional menurut daerah perkotaan dan pedesaan.
  4. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
  5. Pengukuran kemiskinan dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach) tidak hanya digunakan oleh BPS tetapi juga oleh negara-negara lain, seperti Armenia, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone, dan Gambia.

B. Pengukuran Kemiskinan World Bank

      World Bank membuat garis kemiskinan absolut US$ 1 dan US$ 2 PPP (purchasing power parity/paritas daya beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi) dengan tujuan untuk membandingkan angka kemiskinan antar negara/wilayah dan perkembangannya menurut waktu untuk menilai kemajuan yang dicapai dalam memerangi kemiskinan di tingkat global /internasional.

      Angka konversi PPP adalah banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa dimana jumlah yang sama tersebut dapat dibeli sebesar US$ 1 di Amerika Serikat. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang biasanya dilakukan setiap lima tahun.

      Chen dan Ravallion (2001) membuat suatu penyesuaian angka kemiskinan dunia dengan menggunakan garis kemiskinan US$ 1 perhari. Berdasarkan penghitungan yang dilakukan, pada tahun 1993 garis kemiskinan US$ 1 PPP per hari adalah ekuivalen dengan Rp. 20.811,- per bulan.

      Garis kemiskinan PPP disesuaikan antar waktu dengan angka inflasi relatif, yaitu menggunakan angka indeks harga konsumen. Pada tahun 2006, garis kemiskinan US$ 1 PPP ekuivalen dengan RP.97.218,- per orang per bulan dan garis kemiskinan US$ 2 PPP ekuivalen dengan RP.194.439,- per orang per bulan. Perbandingan garis kemiskinan dan persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 menurut BPS dan World Bank adalah sebagai berikut:

 Garis Kemiskinan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2006
 Sumber Garis Kemiskinan (Per Hari)Garis Kemiskinan (Per Bulan)  Penduduk Miskin (%)
 BPS Rp. 5.066,57,-
≈ US$ 1,55 PPP
 Rp. 151.997,- 17,80
 World Bank USS 1 PPP
≈ Rp. 3.240,60,-
 Rp. 97.218,- 7,40
 USS 2 PPP
≈ Rp. 6.841,30,-
 Rp. 194.439,- 49,00

Bank Dunia memprediksi jumlah penduduk Indonesi berpendapatan di bawah US$2 PPP per orang per hari pada tahun 2008 akan turun 4,6 juta orang dari 105,3 juta orang (45,2 persen) menjadi 100,7 juta orang (42,6 persen). Perhitungan itu dilakukan dengan menggunakan jumlah penduduk 232,9 juta orang pada tahun 2007 dan 236,4 juta orang pada tahun 2008. Perkiraan tersebut dibuat dengan memperhitungkan laju inflasi sekitar 6 persen, dampak kenaikan harga minyak dunia saat ini (sekitar US$94 per barel), dan tercapainya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sebesar 6,4 persen.

C.    Metodologi dan Perhitungan Kemiskinan BPS

1. Sumber Data

Sumber data utama yang dipakai adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Sebagai informasi tambahan, digunakan hasil survei SKPD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar) yang digunakan untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok non makanan.

2. Metode

Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), sebagai berikut:

GK = GKM + GKNM

Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan pedesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Garis  kemiskinan makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita per hari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). Ke-52 jenis komoditi ini merupakan komoditi-komoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin. Jumlah pengeluaran untuk  52 komoditi ini sekitar 70 persen dari total pengeluaran orang miskin.

Garis kemiskinan non-makanan (GKNM) adalah  kebutuhabn minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

3. Teknik Penghitungan Garis Kemiskinan

Tahap pertama adalah menentukan penduduk referensi, yaitu 20 persen penduduk yang berada di atas Garis Kemiskinan Sementara, yaitu garis kemiskinan periode lalu yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Garis Kemiskinan Makanan adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumdi penduduk referensi dan kemudian disetarakan dengan nilai energi 2.100 kilokalori  perkapita per hari. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Selanjutnya GKM tersebut disetarakan dengan 2.100 kilokalori dengan cara mengalikan 2.100 terhadap harga implisit rata-rata kalori.

Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi /sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalan data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKD 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumahtangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibandingkan data Susenas modul konsumsi.

Garis Kemiskinan merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non-Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

4. Indikator Kemiskinan

Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan. Pertama, Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (GK).

Kedua, Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) yang merupakan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

Ketiga, Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index- P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

5. Ketersediaan Data

Badan Pusat Statistik (BPS) pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin pada tahun 1984. Pada saat itu, penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin mencakup periode 1976-1981 dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul konsumsi. Sejak itu, setiap tiga tahun sekali BPS secara rutin mengeluarkan data jumlah dan persentase penduduk miskin yang disajikan menurut daerah perkotaan dan pedesaan. Sejak tahun 2003, BPS secara rutin mengeluarkan data jumlah dan persentase penduduk miskin setiap tahun. Hal tersebut bisa terwujud karena sejak tahun 2003 BPS mengumpulkan data Susenas Panel Modul Konsumsi setiap bulan Februari atau Maret.

Data kemiskinan yang diproduksi BPS diterbitkan secara tahunan dalam publikasi yang berjudul ” Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan”.  

D. Data Kemiskinan Mikro Untuk Operasional Bantuan Langsung Tunai (BLT)
 
      Data kemiskinan hasil Susenas merupakan data kemiskinan yang bersifat makro (agregasi nasional, provinsi, dan kabupaten/kota). Data ini hanya menunjukkan jumlah dan persentase penduduk miskin di setiap daerah berdasarkan estimasi, tetapi tidak dapat menunjukkan siapa si miskin dan di mana alamat mereka, sehingga tidak operasional di lapangan. Untuk target sasaran keluarga/rumah tangga secara langsung sangat diperlukan data anggota keluarga/rumah tangga miskin dan lokasi tempat tinggal mereka. Upaya penyediaan data kemiskinan mikro ini dilakukan BPS dengan melaksanakan Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk 2005 (PSE05) yang pada dasarnya adalah pendataan keluarga/RTS untuk penyaluran dana BLT tahun 2005/2006.

      Hasil PSE05 adalah direktori RTS yang memuat informasi nama kepala rumah tangga dan lokasi tempat tinggalnya. RTS hasil PSE05 ini mencakup (dikelompokkan ke dalam) tiga kategori, yaitu sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin. Berbeda dengan metode penghitungan kemiskinan makro yang menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), penentuan RTS PSE05 didasarkan pada pendekatan karakteristik rumah tangga/ ciri-ciri rumah tangga miskin.

      Ada 14 variabel/karakteristik rumah tangga yang dipakai untuk menghitung Indeks Skor RTS. Keempat belas variabel tersebut adalah luas lantai perkapita, jenis lantai, jenis dinding, fasilitas tempat buang air besar, sumber air minum, sumber penerangan, bahan bakar, membeli daging/ayam/susu, frekuensi makan, membeli pakaian baru, kemampuan berobat, lapangan usaha kepala rumah tangga, pendidikan kepala rumah tangga, dan aset yang dimiliki rumah tangga.

      Angka kemiskinan makro yang dihitung dari Susenas secara statistik seharusnya terbanding dengan data RTS kategori miskin dan sangat miskin hasil PSE05. Dari perbandingan kedua set data tersebut dengan menggunakan model regresi logistik diperoleh hasil dengan tingkat  kesesuaian (concordant) berkisar antara 80–90 persen. Hal ini berarti ada ketidaksesuaian antara data kemiskinan mikro PSE05 dan data kemiskinan makro Susenas yang berkisar antara 10–20 persen. Jumlah rumah tangga miskin dan sangat miskin hasil PSE05 sekitar 12,2 juta. Jika diasumsikan rata-rata  anggota rumah tangga sebesar 4 orang dan dikombinasikan dengan angka koreksi 10–20 persen, maka jumlah penduduk miskin dan sangat miskin hasil PSE05 diperkirakan antara 39,04 juta dan 43,92 juta.

      Dibandingkan dengan angka kemiskinan makro di Indonesia pada Maret 2006 sebesar 39,30 juta mengindikasikan adanya konsistensi antara hasil PSE05 dan penghitungan dari Susenas. Akan tetapi perlu kehati-hatian dalam membandingkan kedua data tersebut karena metode penghitungannya didasarkan pada pendekatan yang berbeda. Data PSE05 akan di-update melalui Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 mulai bulan September 2008 dalam rangka penyiapan database RTS untuk memenuhi kebutuhan data berbagai program perlindungan mulai tahun 2009.


AGENDA

POTRET DHUAFA

TENTANG KAMI

 

© Copyright Rumah Pemberdayaan Masyarakat 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.